Kesuksesan tidak selalu lahir dari perjalanan mulus. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode sebelumnya, Sandiaga Uno, membagikan kisah jatuh bangunnya dalam mengelola keuangan, investasi, hingga bisnis kepada generasi muda dalam podcast Unscripted by Theresa.
Dalam diskusi tersebut, Sandiaga mengungkap pelajaran finansial penting yang menurutnya jarang diajarkan kepada anak muda usia 20-an.
Berawal dari Gaji Rp450 Ribu per Bulan
Sandiaga mengenang awal kariernya pada tahun 1990. Saat baru lulus kuliah di usia 21 tahun, ia menerima dua tawaran pekerjaan: dari perusahaan akuntansi Big Four dan bank dalam grup Astra.
“Pilihan saya waktu itu karena selisih gaji Rp50 ribu,” ujarnya sambil tersenyum. Tawaran bank memberikan gaji Rp450 ribu per bulan, sedikit lebih tinggi dibanding tawaran Rp400 ribu dari perusahaan audit internasional.
Meski penghasilannya masih terbatas, Sandiaga mengaku sudah menerapkan gaya hidup hemat sejak muda. Ia terbiasa membawa bekal makan siang sendiri ke kantor, bahkan sempat menjadi bahan candaan rekan kerja.
Baginya, prinsip sederhana seperti “a dollar saved is a dollar earned” menjadi fondasi penting dalam perjalanan finansialnya.
Mulai Investasi Sejak Muda, Tapi Berakhir Terlalu Percaya Diri
Kebiasaan menabung membawanya mengenal dunia investasi sejak usia muda. Awalnya, ia memilih instrumen yang lebih aman seperti reksa dana dan investasi pendapatan tetap.
Namun ketika kariernya melesat dan penghasilannya naik drastis hingga mencapai sekitar USD8.000 per bulan di usia 26–27 tahun, kepercayaan dirinya ikut meningkat.
Ia mulai mengalihkan hampir seluruh asetnya ke saham individual tanpa diversifikasi. Bukan hanya itu, ia bahkan menggunakan fasilitas margin untuk membeli lebih banyak saham.
Lalu datanglah Krisis Finansial Asia 1997.
“Semua saham jeblok. Saya bukan cuma beli saham, tapi pakai margin call. Akhirnya saham habis, utang masih tersisa,” ungkapnya.
Utang ke Bank hingga Mertua: Titik Terendah Kehidupan
Kondisi menjadi lebih sulit ketika investasi yang dikelolanya juga melibatkan pinjaman dengan jaminan aset keluarga calon mertua.
Ia mengaku pernah meyakinkan calon mertuanya untuk menjaminkan tiga sertifikat tanah demi memperoleh pinjaman bank yang kemudian diinvestasikan ke saham pilihannya.
Hasilnya? Seluruh investasi ambruk.
“Utang sendiri, utang ke bank, utang juga kepada mertua,” katanya.
Masa-masa tersebut menjadi salah satu periode paling berat dalam hidupnya.
Bangkit Berkat Keluarga dan Support System
Di tengah keterpurukan, Sandiaga menyebut keluarga sebagai penyelamat utama.
Sang istri bahkan menjual perhiasan miliknya untuk membantu modal usaha ketika kondisi ekonomi keluarga sedang sulit. Sementara ibunya diam-diam menyelipkan uang ke dalam tasnya setiap kali ia berangkat mencari nafkah.
“Ayah saya mengajarkan untuk mensyukuri setiap progres sekecil apa pun,” kenangnya.
Dukungan keluarga tersebut menjadi energi penting yang membantunya bangkit dari titik nol.
4 Pelajaran Finansial Penting untuk Anak Muda
Dari pengalaman jatuh bangun tersebut, Sandiaga merangkum empat pelajaran penting soal uang bagi generasi muda:
1. Cash is King
Jangan menaruh seluruh uang dalam investasi. Dana tunai tetap penting untuk menghadapi risiko tak terduga.
2. Lifestyle Harus Disesuaikan
Kenaikan penghasilan tidak berarti gaya hidup harus ikut melonjak. Banyak anak muda terjebak gaya hidup konsumtif sebelum akhir bulan.
3. Manfaatkan Kekuatan Compounding
Mulai investasi sejak usia 20 tahun dianggap jauh lebih menguntungkan dibanding menunda hingga usia 30 tahun karena efek bunga berbunga bekerja bersama waktu.
4. Bangun Active Income dan Passive Income
Menurutnya, mengandalkan gaji saja tidak cukup. Anak muda perlu mulai membangun sumber penghasilan pasif melalui investasi, aset, bisnis, atau instrumen lainnya.
Dari Krisis Menjadi Peluang
Alih-alih menyerah setelah bangkrut, Sandiaga memilih melihat krisis sebagai peluang.
Berbekal pengalaman di bidang keuangan dan investasi, ia beralih dari karyawan menjadi pengusaha. Bersama tim kecil yang hanya berisi tiga orang, ia membangun bisnis yang kemudian berkembang besar dan membuka puluhan ribu lapangan kerja sebelum dirinya masuk dunia politik.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa kegagalan finansial bukan akhir perjalanan, melainkan bisa menjadi titik awal transformasi — asalkan dibarengi disiplin, keberanian belajar, dan dukungan orang-orang terdekat.










